Silahkan download buku tersebut dalam format .pdf berikut ini! Puisi-puisi ini mohon tidak digunakan untuk tujuan komersil, dan penggunaannya harap mencantumkan sumber dan nama penulisnya. Terima kasih.
Miskin Abadi
Kata orang miskin itu tidak punya tempat tinggal
Miskin itu tidak bisa makan setiap hari
Miskin itu tidak berpakaian seperti kebiasaan orang
Miskin itu meminta-minta pada pertolongan orang
Miskin yang sesungguhnya adalah
Kaya tetapi selalu merasa kurang
Memiliki berkat tetapi tidak pernah bersyukur
Melimpah tetapi tidak pernah peduli sesama
…
Hans Simon Pattimahu; Wilayah IX
KATEGORI: Dewasa
Aku Berjumpa dengan si Miskin
Di dalam busway ber-ac dan kaca tertutup, tak kudengar suara si miskin
Di suasana pesta di sebuah hotel berbintang, tak kutemui si miskin
Di dalam koridor mall di kawasan elite, tak kujumpai si miskin
Di dalam gerejaku, kuberharap duduk beribadah bersama si miskin
Di gedung-gedung perkantoran jalan protokol, tak diijinkan melangkah masuk bagi si miskin
Di rumah-rumah sakit dengan dokter-dokter professional, tiada pelayanan gratis tersedia bagi si miskin
Di suatu sekolah berstandar internasional, tiada harapan beasiswa bagi si miskin
Di dalam gerejaku, kuberharap duduk berdampingan dalam perjamuan bersama si miskin
…
Anang Gunawan
KATEGORI: Dewasa
Saat pagi jalan penuh padat,
Ibu-ibu jockey three-in-one dengan bayinya mengacungkan jari penuh harap
para pengamen saling berebut menaiki angkutan kota dengan sigap
kaum pengemis bersila di jembatan penyeberangan dengan mulut mengucap
Saat siang terik menyengat,
peminta-minta menyodorkan tangan di warung dan restoran
penjaja koran menawarkan dagangannya yang belum terhabiskan
kaum pemulung menghela gerobaknya mengumpulkan barang buangan
Saat surya di ufuk barat,
anak-anak kecil di lampu merah berwajah memerah berharap akan recehan
penyapu=penyapu jalan menyuapkan makanan pengganti lapar yang tertahan
penyemir-penyemir sepatu mandi membersihkan debu-debu yang melekat di badan
Saat sunyi malam dan mataku terasa barat,
Kuterpaku melihat kaum tuna wisma berbagi kardus alas tidur di emperan terminal
Kuterpana menyaksikan gelandangan berbagi kain usang pengusir angin dingin yang nakal
Kunaikkan doa syafaatku memohon Tuhan mengetuk si kaya berbagi amal
…
Anang Gunawan
KATEGORI: Dewasa
Kemiskinan adalah…
Kemiskinan adalah..
Saat kau dan aku saling berhadapan
Sebagai subjek dan objek
Bukan sebagai sesama
Kemiskinan adalah..
Ruang kosong antara kita
Boleh kujejaki tepiannya
Bila memenuhi syarat yang kau ajukan
Kemiskinan adalah..
Legalisasi yang kau buat tentangku
Tanpa menghiraukan hakekat diriku
Dan kenyataan bahwa kita tak beda
Kemiskinan adalah..
Keluhku pada Tuhan
Saat kau sibuk berdebat sebagai yang hebat
Dan aku masih di sini tak berbebat
…
George Sicillia; Wilayah X
KATEGORI: Pemuda
Miskin itu…
(1)
Mengutuki aib kalangan tinggi
Tanpa merasa kesalahan sendiri
Itu miskin harga diri
Giat belajar sukses diraih
Pandai ciptakan alat canggih
Di zaman mesin, era globalisasi
Capai kemajuan prestasi tinggi
Tanpa Tuhan, itu miskin rohani
Memiliki rumah mewah
Fasilitas serba ada
Tanpa kasih adalah hampa
Lebih untung miskin harta
Hidup tentram dan bahagia
Inilah miskin yang sebenarnya
Kita lahir tanpa membawa apa-apa
Kita maiti tiada yang dibawa pergi
Berarti kita miskin dan papa
Di hadapan Allah sang pencipta
Kita miskin, harus diakui
Kita hidup karena kasih
Anugerah sang pengasih
Yesus kristus rela mati
Tiga hari bangkit naik ke tempat tinggi
Menyediakan tempat bagi kami
Selamat bagi yang mengimani
Setia dalam panggilan ilahi
(2)
Si jelata hidup terlunta-lunta
Hina dina tuna susila tunawisma
Tuna harta dan kerja hidup sengsara
Lapar dan dahaga
Dia miskin yang sebenarnya
Ukuran miskin bukan hanya
Tak punya harta benda
Tak punya pendidikan
Tak punya ilmu pengetahuan
Derajat dan kedudukan
Juga miskin dalam iman percaya
Orang berada memiliki segalanya
Hasrat hidup sudah tiada
Tergenang air mata
Duka cemar
Gelisah ditutupinya
Bukankah dia miskin damai sejahtera
Miskin dalam kelimpahan harta
Gila hormat, pangkat dan kedudukan
Mengejar kesenangan dunia
Terhadap sesama dan semena-mena
Yang penting raih keuntungan
Isap tenaga dan darah sesame
Kata hati tak bisa dibohonginya
Miskin cinta lekas tobat
Sebelum celaka tiba
…
Bpk. Yoto – GSM/Komisi Anak
KATEGORI: Orangtua/Lansia
Mereka Bilang Aku Miskin
Mereka bilang aku miskin…
Dihina karena pakaianku yang buluk,
Dan rumahku yang mereka sebut gubuk
Aku bertanya, siapakah mereka? Inikah peduli?
Mereka bilang aku miskin…
Mereka mencemooh, mencibir,
Bahkan memfitnah di belakangku
Aku bertanya, siapakah mereka? Inikah belas kasihan?
Mereka bilang aku miskin…
Dengan tatapan jijik aku ditampar
Dengan senyuman pahit aku ditusuk
Aku bertanya, siapakah mereka? Inikah kasih?
Mereka bilang aku miskin…
Gersang karena matahari, kotor berlumuran debu
Akukah itu?
Ataukah itu hati mereka?
Sekarang aku ragu..
Benarkah aku yang miskin…
ATAUKAH MEREKA??!!
…
Artiya Manurung
KATEGORI: REMAJA
Miskin
Aku hanya seonggok kenyataan
Yang kadang tak dipedulikan
Dianggap hanya khayalan
Nisbi di mata kalian
Aku hanya seonggok realita
Yang kadang ditinju penguasa
Jatuh dan ditelan para pengagung harta
Lalu dimuntahkan jadi ampas semata
Padahal aku adalah hari-harimu
…
Saat kau lalui jembatan layang itu
Aku ada di bawah aspal panas tergilas roda-rodamu
Saat kau berbelanja di mal-mal itu
Sadarkah kalau aku pun pernah ada di situ?
Sebelum tergusur kesombongan ekonomi semu
Aku ada di balik tembok rumahmu
Aku ada di belakang kantormu nan megah itu
Aku juga ada di jalanan yang kau lewati seru
Aku pun ada di balik lepit dompet mahalmu
Karena aku adalah debu-debu
Debu yang menjadi mayoritas di negeri ini
Karena aku adalah kutu-kutu
Kutu yang membuat gatal para penguasa hingga kini
…
Jakarta, Akhir Juni 2008 – Saat Y termenung…
Yancen Piris
KATEGORI: PEMUDA
Kemiskinan (3)
Langit gelap temaram
Hari ini sungguh suram
Diluar kelas hujan menderu
Hatiku kelu
Kududuk di depan guru
Terhenyak rasa pilu
Lara ku rasa
Saat guru berkata:
Terdengar jelas
Beranjak ku berjalan
Termenung di tepi jalan
Mataku berair
“Inikah takdir ?”
“Kejam, mengapa ini terjadi ? “
“Keadaan memaksaku begini“
“Bukan karena aku malas….“
“Hidupku penuh belas….“
“ Pontang – panting kucari uang sejak emak sakit parah, karena ditinggal ayah “
“ Adik – adikku butuh makan, sebelum lapar mengerah”
“ Pagi ku mengantar koran baru, siang ku menyemir sepatu “
“ Sore ku mengamen depan gedong, malam ku membersihkan gerbong“
“ Aku begitu terkuras lelah“
“ Ya, Kadangkala teringat sekolah“
“ Namun receh ditangan pun belum cukup tuk adik – adik makan“
“ Belum terhitung untuk emak yang terkulai di dipan“
Waktu bagiku terasa amat bengis
Memenuhiku dengan tangis
Dalam derasnya hujan, ku putus asa
Ku harus bawa berita tinggal kelas pada emak dalam nestapa
Oooh Tuhan, baru sejenak ku di dunia
Tapi ku tau apa itu sengsara
Ku teringat tali tambang disamping jamban
Aku tak begitu mengerti arti kematian,
Yang kutahu tak akan ada lagi beban….
Tuhan, ku ingin pulang…
…
Christiana Dwi Nastiti
Kategori: Pemuda (dgn melihat perspektif anak)
Kemiskinan (2)
Wajahnya letih dimakan pedih
Suaminya meninggalkannya dengan berbagai dalih
Anak – anaknya menangis tanpa henti
Minta nasi karna tidak ingin mati
Wanita itu bersedu sedan berteman kelamnya malam
Tangisnya muram: “Nasib anak – anakku akan suram”
Teriaknya:
“Darimana dapat uang ?”
“Bayar sewa kontrakan pun dengan hutang”
Serunya: “Apa yang harus kulakukan ?”
“Ku tak sanggup ya Tuhan”
Waktu berlalu melaju
Hidup makin pilu..
Suatu senja ia pergi
Tak jua malam itu ia kembali
Esok hari, Ia pulang membawa kebutuhan untuk sebulan
Anak-anaknya heran, darimana uang itu berperan
Runtuh ia bersimpuh, haru menyerang, ratap meradang:
“Ampuni aku ya Tuhan, aku terpaksa terjun ke lembah curam”
“Aku jual diri, menerima imbalan dari memenuhi hasrat lelaki”
“Tak ada pilihan tuk kujalani, anak – anakku membutuhkan nasi”
Wanita itu tertidur lelah dengan hati gundah
Begitu keruh jalan ia tempuh
Jejak kesedihan menghiasi relung wajah
Takut musnah masa depan hidup yang menjadi tanggung jawabnya
Dalam lelapnya, Wanita itu terlihat begitu galau
Disisinya kutertunduk, ucap doa dengan parau
Ya….
Kuterhenyak pilu
Wanita itu adalah ibuku
Bagian dari hidupku
Ia terpaksa berbuat begitu untuk menyelamatkan nasibku
Juga hidup adik – adikku
…
Anakku sayang,
Apa kabarmu ? Bapak harap kau baik-baik saja, bapak kesepian….
Sejak kau pergi ke ibukota mencoba peruntungan
Karena merasa nasib bisa ditantang
Panen gagal total, harga-harga kebutuhan tinggi menjegal
Bapak terpaksa berhutang lagi, gadai buas merajai
Inikah suratan hidup kita ?
Atau perbuatan negara kita ?
Pedagang di pasar tradisional sebelah menjerit akan harga yang menghimpit
dan korporat raksasa yang bangkit
Adakah kaum elit berjengit?
Inilah ibu pertiwi kita
Minyak bumi terkandung
Hasil alam membumbung
Rakyat tetap lapar, rakyat tetap terlempar
Adilkah ini?
Akan terus berlangsungkah ini ?
Nak…. Jaga diri di Jakarta
Jangan berbuat hina demi keadaan yang ada…
Apalah arti berada bila engkau halalkan segala cara
Kau lihat banyak orang yang melahap sesama tuk kepuasan hidupnya ?
Hartanya adalah surga baginya
Hatinya kehilangan makna
Walau sedih kita sendiri,
Hiduplah jujur & tegar walaupun dilecehkan, disisihkan pun disingkirkan
Meski kau hanya seorang kuli bangunan, tak berpendidikan,
anak petani miskin di kampung Ungaran,
tahu apa mereka tentang penilaian…
kau kesayangan Tuhan.
-Bapakmu-
…
Christiana Dwi Nastiti
Kategori: Pemuda (dgn melihat perspektif orangtua)

KOMENTAR