Archive for the 'PEMUDA' Category

17
Jul
08

Kemiskinan adalah…

Kemiskinan adalah..

Saat kau dan aku saling berhadapan

Sebagai subjek dan objek

Bukan sebagai sesama

Kemiskinan adalah..

Ruang kosong antara kita

Boleh kujejaki tepiannya

Bila memenuhi syarat yang kau ajukan

Kemiskinan adalah..

Legalisasi yang kau buat tentangku

Tanpa menghiraukan hakekat diriku

Dan kenyataan bahwa kita tak beda

Kemiskinan adalah..

Keluhku pada Tuhan

Saat kau sibuk berdebat sebagai yang hebat

Dan aku masih di sini tak berbebat

George Sicillia; Wilayah X

KATEGORI: Pemuda

14
Jul
08

Miskin

Aku hanya seonggok kenyataan

Yang kadang tak dipedulikan

Dianggap hanya khayalan

Nisbi di mata kalian

Aku hanya seonggok realita

Yang kadang ditinju penguasa

Jatuh dan ditelan para pengagung harta

Lalu dimuntahkan jadi ampas semata

Padahal aku adalah hari-harimu

Saat kau lalui jembatan layang itu

Aku ada di bawah aspal panas tergilas roda-rodamu

Saat kau berbelanja di mal-mal itu

Sadarkah kalau aku pun pernah ada di situ?

Sebelum tergusur kesombongan ekonomi semu

Aku ada di balik tembok rumahmu

Aku ada di belakang kantormu nan megah itu

Aku juga ada di jalanan yang kau lewati seru

Aku pun ada di balik lepit dompet mahalmu

Karena aku adalah debu-debu

Debu yang menjadi mayoritas di negeri ini

Karena aku adalah kutu-kutu

Kutu yang membuat gatal para penguasa hingga kini

Jakarta, Akhir Juni 2008 – Saat Y termenung…

Yancen Piris

KATEGORI: PEMUDA

11
Jul
08

Kemiskinan (3)

Langit gelap temaram

Hari ini sungguh suram

Diluar kelas hujan menderu

Hatiku kelu

Kududuk di depan guru

Terhenyak rasa pilu

Lara ku rasa

Saat guru berkata:

“Kau tidak naik kelas”

Terdengar jelas

Beranjak ku berjalan

Termenung di tepi jalan

Mataku berair

“Inikah takdir ?”

“Kejam, mengapa ini terjadi ?

“Keadaan memaksaku begini“

“Bukan karena aku malas….“

“Hidupku penuh belas….“

“ Pontang – panting kucari uang sejak emak sakit parah, karena ditinggal ayah “

“ Adik – adikku butuh makan, sebelum lapar mengerah”

“ Pagi ku mengantar koran baru, siang ku menyemir sepatu “

“ Sore ku mengamen depan gedong, malam ku membersihkan gerbong“

“ Aku begitu terkuras lelah“

“ Ya, Kadangkala teringat sekolah“

“ Namun receh ditangan pun belum cukup tuk adik – adik makan“

“ Belum terhitung untuk emak yang terkulai di dipan“

Waktu bagiku terasa amat bengis

Memenuhiku dengan tangis

Dalam derasnya hujan, ku putus asa

Ku harus bawa berita tinggal kelas pada emak dalam nestapa

Oooh Tuhan, baru sejenak ku di dunia

Tapi ku tau apa itu sengsara

Ku teringat tali tambang disamping jamban

Aku tak begitu mengerti arti kematian,

Yang kutahu tak akan ada lagi beban….

Tuhan, ku ingin pulang…

Christiana Dwi Nastiti

Kategori: Pemuda (dgn melihat perspektif anak)

11
Jul
08

Kemiskinan (2)

Wajahnya letih dimakan pedih

Suaminya meninggalkannya dengan berbagai dalih

Anak – anaknya menangis tanpa henti

Minta nasi karna tidak ingin mati

Wanita itu bersedu sedan berteman kelamnya malam

Tangisnya muram: “Nasib anak – anakku akan suram”

Teriaknya:

“Darimana dapat uang ?”

“Bayar sewa kontrakan pun dengan hutang”

Serunya: “Apa yang harus kulakukan ?”

“Ku tak sanggup ya Tuhan”

Waktu berlalu melaju

Hidup makin pilu..

Suatu senja ia pergi

Tak jua malam itu ia kembali

Esok hari, Ia pulang membawa kebutuhan untuk sebulan

Anak-anaknya heran, darimana uang itu berperan

Runtuh ia bersimpuh, haru menyerang, ratap meradang:

“Ampuni aku ya Tuhan, aku terpaksa terjun ke lembah curam”

“Aku jual diri, menerima imbalan dari memenuhi hasrat lelaki”

“Tak ada pilihan tuk kujalani, anak – anakku membutuhkan nasi”

Wanita itu tertidur lelah dengan hati gundah

Begitu keruh jalan ia tempuh

Jejak kesedihan menghiasi relung wajah

Takut musnah masa depan hidup yang menjadi tanggung jawabnya

Dalam lelapnya, Wanita itu terlihat begitu galau

Disisinya kutertunduk, ucap doa dengan parau

Ya….

Kuterhenyak pilu

Wanita itu adalah ibuku

Bagian dari hidupku

Ia terpaksa berbuat begitu untuk menyelamatkan nasibku

Juga hidup adik – adikku

Anakku sayang,

Apa kabarmu ? Bapak harap kau baik-baik saja, bapak kesepian….

Sejak kau pergi ke ibukota mencoba peruntungan

Karena merasa nasib bisa ditantang

Panen gagal total, harga-harga kebutuhan tinggi menjegal

Bapak terpaksa berhutang lagi, gadai buas merajai

Inikah suratan hidup kita ?

Atau perbuatan negara kita ?

Pedagang di pasar tradisional sebelah menjerit akan harga yang menghimpit

dan korporat raksasa yang bangkit

Adakah kaum elit berjengit?

Inilah ibu pertiwi kita

Tanah air yang kaya

Minyak bumi terkandung

Hasil alam membumbung

Rakyat tetap lapar, rakyat tetap terlempar

Adilkah ini?

Akan terus berlangsungkah ini ?

Nak…. Jaga diri di Jakarta

Jangan berbuat hina demi keadaan yang ada…

Apalah arti berada bila engkau halalkan segala cara

Kau lihat banyak orang yang melahap sesama tuk kepuasan hidupnya ?

Hartanya adalah surga baginya

Hatinya kehilangan makna

Walau sedih kita sendiri,

Hiduplah jujur & tegar walaupun dilecehkan, disisihkan pun disingkirkan

Meski kau hanya seorang kuli bangunan, tak berpendidikan,

anak petani miskin di kampung Ungaran,

tahu apa mereka tentang penilaian…

kau kesayangan Tuhan.

-Bapakmu-

Christiana Dwi Nastiti

Kategori: Pemuda (dgn melihat perspektif orangtua)

11
Jul
08

Kemiskinan di Mataku

Sejak lahirku,

Tangan kasar ibuku menjadi sentuhan pertamaku

Suara letih ayahku menjadi pendengaran pertamaku

Sampah yang menggunung menjadi pemandangan pertamaku

Lapak kayu sempit & berlumut  menjadi penaung pertamaku

Tanah berbeling & berlumpur menjadi tempat pijakan pertamaku

Beras akas menjadi makanan pertamaku

Botol bekas menjadi mainan pertamaku

Kucing liar menjadi sahabat pertamaku

Hingar bingar jalanan menjadi ruang lingkup pertamaku

Hingga dewasaku ini, pertamaku telah menjadi seluruh isi hidupku,

Akankah ini selalu jadi duniaku ??

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka tidak menyadari kehadiranku di ramainya jalanan

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka tidak sudi memandang & menyapaku sejenak diantara peluhku

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka enggan menyentuhku dan merengkuhku ketika ku merasa sepi

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka tak mendengarku ketika ku merintih menahan lapar & pedih

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka tidur pulas ketika ku tidur di tanah aspal beratap langit

Mereka bilang kasih..

Tapi mereka tidak menguatkanku ketika ku menangisi keadaanku

Mereka bilang kasih..

Tapi tidak punya waktu untuk menjadi temanku dalam segala kekuranganku

Dan untuk ada bersamaku

Yang kutahu kasih akan bertindak

Bukan diam tak bergerak

Mereka anggap manusiakah aku ??

Tuhan, jelaskan padaku…

Jangan menutup hidungmu ketika ku lewat,

Aku hanya bisa mengumpulkan sampah layak pakai, lalu kujual tuk makanku hari ini

Jangan menutup kupingmu,

Aku mengamen dengan suara sumbangku, agar perut adik-adikku bisa terisi

Jangan memalingkan wajahmu

Aku hanya bisa duduk meminta di trotoar karena kondisiku tidak mendatangkan pilihan

Jangan curigai aku

Aku hanya memandangi pakaian yang kau pakai, makanan yang kau makan, untuk kuimpikan

Jangan mendelik padaku

Aku belum mengenal sopan santun, karena tidak ada yang mengajariku.

Jangan menghinaku ‘bodoh’

Aku memang tidak berpendidikan, aku tidak bisa bersekolah sepertimu. Tak ada yang membagiku pengetahuan

Jangan menghakimiku ‘menjual belas kasihan’

Aku, saudara-saudaraku dan teman-temanku tidak punya kesempatan apapun tuk menjadi selain ini

Jangan menjauhi aku

Aku kotor, karena aku tidak meperdulikan tubuhku, hariku untuk mencari receh

Jangan menganggap aku adalah ‘gangguan’

Aku hanya bisa berkeliaran untuk melupakan beban hidupku, tak ada yang punya waktu tuk berbagi sukacita denganku

Jangan memojokkanku

Aku hanya bisa menangis marah ketika tramtib menggusur lapak sempit tempatku bernaung. Tak ada yang menolongku

Jangan mengejekku

Aku seringkali melanggar aturan karena aku tidak bisa memikirkan cara lain tuk mengejar hidup hari ini.

Jangan… Jangan.

Karena..

Kau dan aku adalah ‘rancangan’ dari pencipta yang sama

Kau dan aku menghirup udara yang sama di bumi yang sama

Yang membedakan kau dan aku hanyalah: Tak ada kesempatan untukku.

Beras mahal, minyak tak terjangkau.

Ayah berteriak marah

Ibu menangis pasrah

Aku menengadah:

“ Makan apa kami hari ini ?”

Biaya sekolah naik, buku kian mahal.

Bu guru menyesal terduduk

Ayah diam tertunduk

Aku menangis terpuruk:

“Sekolahku berhenti sampai disini”

Sesuap nasi makin brutal diperebutkan.

Ayah makin berpeluh

Aku coba tuk berteguh

Adik mendesis mengaduh:

“Kapan kita bisa punya mobil mewah seperti mereka ?”

Kriminalitas subur berkembang, mendominasi.

Tetanggaku dituduh mencuri

Sahabatku berlari dari polisi

Aku terpekur berdiri:

“Haruskah kuakhiri hidup ini ?”

Terjepit, ku terhimpit….

Sudikah kau kubagi ini sakit ?

Dengan kesulitan ku dijambak..

Kapankah kau akan bertindak ??

Anak itu mencari sesendok nasi, dipanas terik berpeluh

Mengapa ia begitu tekun & teguh ?

Sedang Aku banyak mengeluh

Anak itu bermain diantara tumpukan sampah, berbatunya tanah

Tapi mengapa ia tertawa meriah ?

Sedang Aku tiada berhenti bersesah

Anak itu makan nasi dan garam

Tapi ia masih bersyukur begitu dalam

Sedang Aku sibuk menyusun dendam

Anak itu tidak bisa membaca, sekolah hanya dalam mimpinya

Tapi mengapa ia tetap merasa bahagia ?

Sedang Aku enak-enakkan saja

Anak itu berdoa pada Tuhan

Aku hidup hanya berpusat pada beban

Kusadari…

Anak itu menjalani hidup dengan tulus hati

Sedang aku mengeluh tanpa henti

Aku miskin hati

Anak itu berjuang melawan pedih

Sedang aku tak bertindak, sibuk berdalih

Aku miskin kasih

Christiana Dwi Nastiti

Kategori: Pemuda

11
Jul
08

Kemiskinan

Kemiskinan

Seperti anak ayam kehilangan induk

Penuh tangis….

tanpa kasih sayang orang tua.

Kemiskinan

seperti burung bebek tanpa pemimpin

terbang tanpa arah

hidup tanpa tujuan

kemiskinan

bukan lah waktu yang hilang

tapi waktu untuk dijalani

waktu untuk berusaha

kemiskinan

berbeda tipis dengan kekayaan

Kemiskinan dan kekayaan

selalu ada awal dan akhir

Benara Fenda

Kategori: Pemuda (dgn melihat dari perspektif orang dewasa)

11
Jul
08

Kemiskinan

Aku seorang anak

tidak bahagia karena boneka

tidak bahagia karena mainan

atau pengasuh yang baek

tawaku hanya semu

senang untuk sesaat

boneka dan mainan

hanya sebagai benda kematian

aku miskin di kelimpahanku

aku miskin kasih sayang ibuku

aku miskin kehadiran ayahku

aku miskin kehangatan

Cemburu aku melihat anak itu

tawanya…

senyumnya

karena kasih sayang ibu-ayah nya

Aku iri …

dia kaya akan kehangatan

aku sedih….

karena aku miskin

Benara Fenda

Kategori: Pemuda (dgn melihat dari perspektif anak)




GALERI PUISI BULAN KESPEL 08

October 2014
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
dan.. Apakah "KEMISKINAN" di matamu?

KATEGORI

ARSIP PUISI

KOMENTAR

theda on Miskin

JUMLAH PENGUNJUNG

  • 21,997 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.