11
Jul
08

Kemiskinan (2)

Wajahnya letih dimakan pedih

Suaminya meninggalkannya dengan berbagai dalih

Anak – anaknya menangis tanpa henti

Minta nasi karna tidak ingin mati

Wanita itu bersedu sedan berteman kelamnya malam

Tangisnya muram: “Nasib anak – anakku akan suram”

Teriaknya:

“Darimana dapat uang ?”

“Bayar sewa kontrakan pun dengan hutang”

Serunya: “Apa yang harus kulakukan ?”

“Ku tak sanggup ya Tuhan”

Waktu berlalu melaju

Hidup makin pilu..

Suatu senja ia pergi

Tak jua malam itu ia kembali

Esok hari, Ia pulang membawa kebutuhan untuk sebulan

Anak-anaknya heran, darimana uang itu berperan

Runtuh ia bersimpuh, haru menyerang, ratap meradang:

“Ampuni aku ya Tuhan, aku terpaksa terjun ke lembah curam”

“Aku jual diri, menerima imbalan dari memenuhi hasrat lelaki”

“Tak ada pilihan tuk kujalani, anak – anakku membutuhkan nasi”

Wanita itu tertidur lelah dengan hati gundah

Begitu keruh jalan ia tempuh

Jejak kesedihan menghiasi relung wajah

Takut musnah masa depan hidup yang menjadi tanggung jawabnya

Dalam lelapnya, Wanita itu terlihat begitu galau

Disisinya kutertunduk, ucap doa dengan parau

Ya….

Kuterhenyak pilu

Wanita itu adalah ibuku

Bagian dari hidupku

Ia terpaksa berbuat begitu untuk menyelamatkan nasibku

Juga hidup adik – adikku

Anakku sayang,

Apa kabarmu ? Bapak harap kau baik-baik saja, bapak kesepian….

Sejak kau pergi ke ibukota mencoba peruntungan

Karena merasa nasib bisa ditantang

Panen gagal total, harga-harga kebutuhan tinggi menjegal

Bapak terpaksa berhutang lagi, gadai buas merajai

Inikah suratan hidup kita ?

Atau perbuatan negara kita ?

Pedagang di pasar tradisional sebelah menjerit akan harga yang menghimpit

dan korporat raksasa yang bangkit

Adakah kaum elit berjengit?

Inilah ibu pertiwi kita

Tanah air yang kaya

Minyak bumi terkandung

Hasil alam membumbung

Rakyat tetap lapar, rakyat tetap terlempar

Adilkah ini?

Akan terus berlangsungkah ini ?

Nak…. Jaga diri di Jakarta

Jangan berbuat hina demi keadaan yang ada…

Apalah arti berada bila engkau halalkan segala cara

Kau lihat banyak orang yang melahap sesama tuk kepuasan hidupnya ?

Hartanya adalah surga baginya

Hatinya kehilangan makna

Walau sedih kita sendiri,

Hiduplah jujur & tegar walaupun dilecehkan, disisihkan pun disingkirkan

Meski kau hanya seorang kuli bangunan, tak berpendidikan,

anak petani miskin di kampung Ungaran,

tahu apa mereka tentang penilaian…

kau kesayangan Tuhan.

-Bapakmu-

Christiana Dwi Nastiti

Kategori: Pemuda (dgn melihat perspektif orangtua)


0 Responses to “Kemiskinan (2)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


GALERI PUISI BULAN KESPEL 08

July 2008
M T W T F S S
    Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
dan.. Apakah "KEMISKINAN" di matamu?

KATEGORI

ARSIP PUISI

KOMENTAR

theda on Miskin

JUMLAH PENGUNJUNG

  • 28,298 hits

%d bloggers like this: